Tumbuh dan Berkembang
Rp 0.00
Sekadar dihina adalah sesuatu yang biasa bagi para Suster Belaskasih dari Hati Yesus yang Mahakudus. Suster HK, begitu biasa mereka disebut, malah kerap mengalami lebih dari itu. Baik dicaci maki, dilempar batu, saat ibadat diganggu, bahkan dilempar dengan kotoran manusia menjadi peristiwa yang dihadapi di beberapa tempat.
Berbagai tindakan itu tak menyurutkan karya dan pelayanan Suster-suster Kongregasi HK. Mereka pun tak menyimpan dendam atas berbagai perlakuan itu. Dengan kasih, kesederhanaan, dan sikap menyaudara, akhirnya mereka pun dapat diterima dengan tangan terbuka.
Semangat karya dan pelayanan mereka merupakan warisan para misionaris dari Belanda yang datang pertama kali ke Nusantara tahun 1927. Empat suster perintis meninggalkan tanah airnya untuk mengabdi di Nusantara dengan kesederhanaan. Meskipun mendapat perlakuan diskriminatif dari pemerintah Hindia Belanda mereka tetap berkarya dengan sepenuh hati. Perlahan-lahan karya pendidikan dan kehadiran mereka mendapat perhatian dari masyarakat.
Pada masa pendudukan tentara Jepang, para misionaris di Nusantara, termasuk Suster-suster Kongregasi HK, mengalami penderitaan begitu berat. Meski demikian, tak ada keluh kesah yang terucap dari mereka. Para suster itu menghadapi dengan tabah dan memberikan penghiburan bagi tahanan lain.
Setelah Indonesia merdeka suster-suster HK tidak dapat langsung berkarya seperti semula. Mereka harus kembali membangun karya yang telah hancur. Berkat kerja keras dan ketekunan, karya mereka pun dapat lebih berkembang dibandingkan sebelum Perang Dunia II.
Seiring dengan amanat Konsili Vatikan II, Kongregasi HK membangun dua komunitas integral di Lampung. Biara mereka bukan tembok tebal dan tertutup tetapi rumah layaknya tempat tinggal penduduk sekitarnya. Mereka pun hidup menyatu dengan masyarakat.
Di tengah-tengah pertumbuhan karya dan jumlah anggota, sebuah keputusan menghentak pada tahun 1972. Keputusan itu menyatakan bahwa Suster-suster Kongregasi HK Indonesia harus mandiri dan terpisah dari biara induk di Belanda. Sejak itu proses panjang dan menyakitkan untuk mewujudkan kemandirian dilakukan. Proses itu akhirnya tuntas pada 11 September 1993.
Tiga puluh tahun kemudian, Kongregasi HK di Indonesia semakin berkembang. Karya mereka meliputi bidang pendidikan, kesehatan, pastoral sosial, dll. Begitu pula jumlah anggota bertambah. Meskipun demikian ciri khas yang diwariskan oleh para misionaris tetap dijaga dengan erat. Mereka hadir di tengah umat dan masyarakat untuk memberikan kesaksian rasuli dengan spiritualitas Belaskasih dari Hati Yesus yang Mahakudus.
| Penulis |
A. Bobby, Pr |
| Bahasa |
Indonesian |